News Update :

Tutorial Blogger

Tips

Resep

Tampilkan postingan dengan label Berita Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Internasional. Tampilkan semua postingan

Muslim AS Upayakan Standarisasi Produk Halal

Senin, 15 Agustus 2011

Muslim AS Upayakan Standarisasi Produk Halal
REPUBLIKA.CO.ID, Kawasan Devon Avenue di kota Chicago merupakan pusat tempat usaha milik imigran dari Asia Selatan. Pada bulan Ramadan ini, banyak warga Muslim yang rela datang dari luar kota, untuk berbelanja di berbagai toko halal di kawasan ini.

"Saya menyetir 70 kilometer untuk datang ke toko ini," ujar Sa'adat Khan, seorang pelanggan yang ditemui di salah satu toko di jalan Devon. "Tapi, pengorbanan ini sepadan," katanya lagi.

Di luar kota besar, toko halal memang tidak selalu mudah ditemukan. Ini membuat warga Muslim Amerika seringkali berbelanja di toko Kosher yang menjual produk berdasarkan standar kelaziman Yahudi.

"Hanya tersedia sekitar 1.000 produk halal bersertifikat bagi konsumen di sini," jelas Susan Labadi dari Asosiasi Halal Amerika. "Tapi dengan produk kosher, ada 100.000 produk bersertifikat yang tersedia," tambahnya lagi.

Prosedur sertifikasi halal pun masih simpang siur. Banyak pihak yang memberi label halal tanpa standar yang baku. Di Amerika Serikat, memang tidak ada lembaga serupa MUI yang mengatur sertifikasi halal. Jadi, sebagian besar yang mengelolanya adalah komunitas Muslim itu sendiri.

Di antara komunitas Muslim di sini pun dikenal istilah 'Zabihah Halal,' yang tidak lazim di tanah air. 'Zabihah' di sini merujuk tata cara menyembelih binatang sesuai dengan tata cara hukum Islam. Sementara, istilah 'halal' berlaku bagi segala yang boleh dimakan menurut Islam.

Saat ini Asosiasi Halal Amerika tengah bekerja sama dengan berbagai lembaga yang mengeluarkan sertifikasi halal untuk menyepakati standar yang bisa diterapkan dengan pengawasan pemerintah. Menurut koordinator proyek ini, bagi sebagian warga Muslim Amerika, label halal saja belum tentu cukup.

Kaum muda Muslim Amerika misalnya, tambah Susan Labadi, menginginkan produk halal yang juga organik. Menurut Labadi, dengan proses sertifikasi halal yang lebih baik, daging dan produk halal juga dapat dinikmati warga non-Muslim Amerika, yang ingin mendapatkan produk bersih dan bermutu.

Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Voanews.com

Aisha Uddin: Orang Boleh Tak Senang, Tapi Saya Bangga Bisa Menjadi Muslim

Kamis, 28 Juli 2011

Aisha Uddin: Orang Boleh Tak Senang, Tapi Saya Bangga Bisa Menjadi Muslim
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Kulitnya putih pucat, matanya biru terang. Sebelum berjilbab, banyak orang terkaget-kaget ia bisa melantunkan Al Fatihah dengan merdu. Memang, tak sefasih Sameeah Karim, sahabatnya. Namun, bagi seorang kulit putih seperti dirinya, sungguh luar biasa.

Sudah beberapa tahun ini, Aisha memeluk Islam. Gadis 22 tahun ini juga sudah mulai berjilbab, bahkan lebih gemar mengenakan abaya. "Sebelum ini, jeans dan hoodies adalah busana saya sehari-hari...juga make up tebal," ia terkekeh menceritakan.

Banyak yang memprotes perubahannya, tapi ia tersenyum saja menanggapinya. "Bagi saya sekarang, jelas itu merupakan perubahan dramatis, tapi saya senang dengan apa yang saya buat, karena sekarang saya tidak harus membuktikan diri untuk menjadi orang lain di luar saya. Inilah saya," ujarnya.

Aisyah menaruh minat pada agama sejak menginjak sekolah menengah. Sejak itu, ia mulai diam-diam mengunjungi masjid setempat untuk belajar agama yang semula dianggap 'aneh' olehnya.

"Islam menarik perhatian saya dan saya ingin tahu lebih jauh ke dalamnya - orang-orangnya juga budayanya - dan saya terus belajar dan belajar," ujarnya.

Melanjutkan pendidikan ke Birmingham, ia merasa bak di surga. "Saya tak perlu lagi sembunyi-sembunyi belajar, dan di sekeliling saya banyak yang Muslim," katanya.

Dia mengaku menghabiskan bertahun-tahun belajar banyak tentang Islam sebelum sepenuhnya yakin dan bersyahadat. Setelah bisa mempraktikkan shalat lima waktu dengan benar, ia mulai belajar berjilbab.

"Hidup berubah secara dramatis setelah itu," akunya.

Ia bukan sedang bercerita tentang penampilannya, namun apa yang ada dalam dirinya. "Dulu saya adalah seorang pemberontak dan selalu mendapatkan masalah di rumah. Lalu ketika saya menjadi Muslim, saya menjadiagak tenang," ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga lebih senang tinggal di rumah, ketimbang dugem di luar rumah. "Mempelajari sesuatu dari internet, atau membaca buku membuat saya lebih bahagia...Kini saya bangga punya identitas tertentu," akunya.

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: BBC, Turn To Islam

STMIK AMIKOM

Berhasil Atasi Prasangka Buruk, Richard Beuchamp Total Menerima Islam

Rabu, 27 Juli 2011

Berhasil Atasi Prasangka Buruk, Richard Beuchamp Total Menerima Islam
REPUBLIKA.CO.ID, Richard Beauchamp duduk di area parkir memandng para Muslim keluar Masuk. Ia tak pernah sekalipun memasuki masjid dan ia gugup

Begitu berhasil mengumpulkan keberanian untuk masuk, ia disambut hangat. Lelaki itu mengaku dibesarkan dalam tradisi Baptis, namun ia sangat tertarik Islam.

"Mereka luar biasa baik," ujar Beauchamp, 36 tahun, warga asal Irving. "Mudah sekali untuk kembali datang ke sana," tuturnya.

Pada kunjungan berikut bertepatan dengan pelaksanaan shalat Jumat. Beuchamp tidak tahu sama sekali cara Muslim beribadah. Ia pun hanya duduk dan melihat. Hampir semua pria berdiri di lantai. "Kursi hanya digunakan untuk orang tua yang tak sanggup berdiri." ungkapnya. "Saat itu saya larut dalam doa sehingga hampir tidak memperhatikan sekitar."

Apa yang membuat ia tertarik kepada Islam. Rupanya saat usia muda, Beuchamp sudah kecewa dengan Kristen. Ia tidak memahami bagaimana Kristiani meyakini satu Tuhan dan Trinitas sekaligus bersamaan.

Perjalanannya menuju Islam adalah pencarian seorang diri, sesuatu yang umum terjadi pada warga Amerika yang beralih ke Muslim. Ia menemukan Islam lewat buku bahkan sebelum bertemu dan menjalin hubungan dengan seorang Muslim.

Dalam kunjungan rutin ke masjid selama satu tahun, ia meyakini telah menemukan rumah spritual di dalam Islam. Namun Beuchamp menyadari menjadi Muslim berarti mengubah total seluruh gaya hidupnya.

"Saya saat itu memiliki gaya hidup seperti warga Amerika lain berusia 20-an," tuturnya. "Saya keluar ke club malam, minum dan bergaul bebas dengan para wanita. Sebagai muslim kini saya tak bisa lagi bebas bergaul dan bepergian seenaknya dengan teman wanita. Yang pasti saya tak bisa minum lagi."

Saat beralih, ia mendapati respon temannya ternyata jauh lebih keras ketimbang tanggapan kedua orangtuanya. "Gaya hidup saya berubah banyak dan sulit bagi teman saya untuk menerima," ujarnya. "Namun ketika saya membaca tulisan teman-teman Muslim lain, justru kian sulit untuk menengok kebelakang," tuturnya.

Tak dipungkiri oleh Beuchamp, saat tumbuh besar ia memiliki pandangan kelam tentang Muslim. Itu pun sedikit menghambat peralihannya. Cerita-cerita mengenai revolusi Iran, kekerasan dan penangkapan warga Amerika sebagai sandera yang kadang dibunuh di Timur-Tengah membuat ia curiga.

"Benar-benar perjuangan untuk mengatasi prasangka yang telah saya miliki" ungkapnya. Namun pengalaman pertama berkunjung ke masjid langsung mendobrak semua pandangan negatif tadi. "Say menyaksikan orang-orang yang begitu beriman, tulus dan penuh kasih sayang." tuturnya.

Pada 2006, Beucham pergi ke Indonesia untuk menikahi seorang wanita. Ia mengenalnya lewat sebuah situs kontak jodoh di Internet. "Ia wanita yang baik dan taat," ujarnya.

Ia berkorespondensi lewat internet dengan wanita itu selama enam bulan lalu terbang ke Indonesia untuk bertemu dengannya dan keluarganya. Ia berada di Indonesia ketika serangan 11 September terhadap menara kembar WTC dan pentagon terjadi.

"Banyak warga Amerika seketika itu memiliki pandangan distorsi terhadap Islam." ujarnya. "Itu sungguh melukai hati saya karena Islam telah membawa rasa damai dan tujuan hidup yang sebelumnya tak pernah saya miliki,"

Anak Muda Inggris Dukung Keberadaan Komunitas Muslim

Anak Muda Inggris Dukung Keberadaan Komunitas Muslim
REPUBLIKA.CO.ID,LONDON - Berbeda dengan AS, masyarakat Inggris cenderung menerima keberadaan komunitas Muslim. Kecenderungan itu terekam dalam jajak pendapat yang digagas University of Warwick.

Disebutkan, 59 persen pemuda gereja, utamanya pelajar, mengatakan mendukung Muslimah Inggris untuk mengenakan jilbab di sekolah. Dukungan serupa juga diberikan kepada Muslimah Inggris yang mengenakan burqa di sekolah, yakni 52 persen. Yang menarik, 23 persen pemuda Gereja mendukung keberadaan sekolah-sekolah Muslim.

Profesor Robert Jackson, Direktur Riset Pendidikan dan Agama, University of Warwick Warwick menilai hasil jajak pendapat menunjukkan, masyarakat Inggris mulai menerima kehadiran komunitas Muslim kendati masih terdapat konflik dalam skala kecil yang menunjukkan permusuhan.

Indikasi lain, kata Jackson, masyarakat Inggris, utamanya pemuda Gereja merasa tidak memiliki identitas keagamaan selayaknya komunitas Muslim. “Kehadiran komunitas Muslim membuat mereka (pemuda Gereja) memiliki kesempatan untuk belajar tentang keimanan mereka dan keyakinan agama lain,” papar dia seperti dilansir ConventryTelegraph.co.uk, Selasa (27/7).

Dikatakan Jackson, kesimpulan jajak pendapat tidak terlepas dari kehadiran pelajaran agama di sekolah-sekolah Inggris yang menawarkan kesempatan penting bagi pemuda untuk mempelajari keyakinan agama lain seperti Islam atau Yahudi. Menurut dia, bila pendidikan tentang agama ditiadakan bisa jadi ada resiko diskriminas dan permusuhan antar agama di masa depan.
“Hasil jajak pendapat menggambarkan pula pandangan kaum muda Inggris dalam menghadapi keberagaman di negaranya. Mereka juga menunjukan saling menghargai adanya keragaman keyakinan,” kata dia.
Jajak pendapat ini melibatkan 10.000 pelajar berusia 13-15 tahun yang berasal dari Inggris Raya. Berikut hasil jajak pendapat:

Muslim harus diizinkan untuk memakai jilbab di sekolah:
  • Tidak beragama 60%
  • Kristen abangan 59%
  • Kristen, 79%
Muslim harus diizinkan untuk memakai Burqa di sekolah:
  • Tidak beragama 51%
  • Kristen 52%
  • Kristen, 63%
Saya mendukung sekolah-sekolah Muslim:
  • Tidak beragama 18%
  • Kristen Abang 23%
  • Kristen, 29%



Redaktur: Krisman Purwoko
Reporter: Agung Sasongko
Sumber: conventrytelegraph

STMIK AMIKOM

AS Keluarkan "Travel Warning" ke Jepang

Senin, 14 Maret 2011

WASHINGTON, KOMPAS.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan travel warning, Minggu (13/3/2011) waktu setempat kepada seluruh warganya agar tidak mengunjungi Jepang. Hal tersebut terkait terjadinya masalah pada reaktor nuklir di Fukushima usai diguncang gempa bermagnitud 9 pada Jumat lalu.
AS Keluarkan Travel Warning ke Jepang

Dalam peringatan yang dikeluarkan itu dikatakan bahwa semua pegawai pemerintah yang tidak berkepentingan ke Jepang diminta menunda kunjungan. Begitu pula bagi seluruh warga AS yang tidak punya keperluan sangat penting agar menunda kunjungan ke Jepang.

Disebutkan pula bahwa gempa susulan masih mungkin terjadi dengan kekuatan cukup besar dan dapat memicu tsunami. Warga yang berada di Jepang diimbau untuk menghindari wilayah yang dekat pantai.

Sementara buat warga yang tengah berada di Prefektur Fukushima diimbau untuk selalu taat mengikuti anjuran pemerintah setempat. Kalau perlu segera meninggalkan lokasi sekitar reaktor nuklir yang tengah bermasalah dan berisiko menyebarkan radiasi zat radioaktif.

Jepang kini tengah menghadapi darurat nuklir setelah enam reaktor nuklir di negara tersebut mengalami masalah setelah diguncang gempa. Ribuan warga yang tinggal di sekitar reaktor telah diungsikan untuk menghindari paparan radiasi.

Gaji Karyawan Termahal, Rp. 28 Miliar

Rabu, 02 Maret 2011

Berita
REPUBLIKA.CO.ID,LONDON – Ini benar-benar gaji ‘gila’ bagi seorang karyawan pabrik. Ketika membuka slip gajinya, seorang karyawan pabrik sangat terkejut mendapati nilai uang gajinya sebesar 2 juta poundsterling (Rp 28 miliar). Besarnya 1.000 kali lipat dari gaji normalnya.

Bankir mungkin tidak akan berkedip mata ketika melihat uang dalam jumlah besar tersebut. Tapi bagi karyawan pabrik tersebut, dia butuh bekerja selama 83 tahun untuk mendapatkan uang sebesar itu.

Tapi, karyawan pabrik itu tidak silau untuk memilih naik pesawat pertama ke Karabia ketika mendapati rekeningnya masuk transfer sebesar Rp 28 miliar. Karyawan yang gaji bulanannya sebesar 2.000 poundsterling (Rp 25,8 juta) itu langsung memberitahukan bosnya dan mengembalikan uang tersebut.

Pemimpin Uni Pekerja, Andy Murray, mengatakan: "Sudah ada pembicaraan di pabrik. Dia sangat terkejut saat mendapati gajinya sebesar itu. Aku pun pasti akan demikian.’’

Howmet Alcoa, perusahan pembuat turbin pesawat, membayar 1,4 juta poundsterling (Rp 19,2 miliar) langsung ke rekening bank karyawan misteri itu. Sementara sisanya 600 ribu poundsterling (Rp 8,5 miliar) untuk pembayaran pajak penghasilan.

Juru bicara perusahaan, Jasper van Zon, mengatakan: "Kami telah mengakui dia karena kejujurannya."

Berita Nasional

 

© Copyright Cara Gratis Terbaru 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.